Jumat, 17 April 2009

ADA APA DENGAN CALEK DAN PARTAI ???

Oi,,"ketemeu lagi ama ane nih di posting kali ini ane mau bahas calek,calek dari partai yang kurang beruntung banyak pihak" yang merasa di rugikan oleh para calek, dan ada bebera[a calek yang mengalamami sakit kejiwaan kayak apa kisahnya simak langsung aja nih.


Jumat, 17 April 2009


Diejek, Caleg Pukuli Tetangga




PEKALONGAN, KOMPAS.com — Seorang caleg di Pekalongan, Jawa Tengah, Agus Panut (38), menganiaya Suyanto (33), warga Kelurahan Sapura, karena pelaku diduga mengalami depresi akibat tidak terpilih sebagai wakil rakyat dalam Pemilu 2009.

Budi Kristanto (43), kakak Agus di Pekalongan, Kamis, mengatakan bahwa adiknya, Agus Panut, dalam sepekan terakhir ini hanya berdiam diri di dalam rumah. "Kami tidak tahu persis adanya pemukulan terhadap Suyanto karena Agus sekarang tidak berada di rumah," katanya.

Menurut dia, peristiwa aksi pemukulan itu terjadi pada Rabu (15/4) sekitar pukul 22.30, saat korban dengan warga lainnya sedang berada di pos keamanan lingkungan setempat.

"Informasi yang kami terima bahwa aksi pemukulan itu diduga akibat korban mengejek pelaku," katanya. Agus Panut, katanya, semula menargetkan perolehan suara di TPS Kelurahan Sapura, Kota Pekalongan, sebanyak 50-100 suara. Namun, kenyataannya kader dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini hanya memperoleh lima suara.

"Kemungkinan kemarahan pelaku terhadap korban akibat sebelum Pemilu 9 April 2009, warga setempat meminta bantuan dana kepada Agus Panut sebanyak Rp 2,4 juta dengan menjanjikan hak suara akan memilih dirinya," katanya.

Suyanto membantah jika dirinya menjelek-jelekkan Agus Panut dan keluarganya. "Sebagai tetangga, kami tidak ada maksud menjelekkan dia. Namun kami tidak tahu, secara mendadak Agus Panut memukuli sehingga kasusnya dilaporkan ke Polsek," katanya.

Kapolsek Pekalongan Barat AKP Sumarjo membenarkan adanya kasus pemukulan yang dilakukan oleh seorang calon anggota legislatif, Agus Panut. "Saat ini, kasusnya masih dalam pemeriksaan polisi dan kami masih memintai keterangan dari sejumlah para saksi," katanya.




liputan6




Jumat, 17 April 2009


Gagal Jadi Caleg Malah Gelar Syukuran

Liputan6.com, Solo: Seorang calon legislator di Solo, Jawa Tengah menggelar acara syukuran, baru-baru ini. Acara ini digelar sebagai wujud syukur atas kegagalannya mencapai kursi DPR. KRA Bambang Saptonodiningrat yang dipastikan tidak lolos sebagai anggota Dewan mengajak rekan-rekan, warga, serta para budayawan hadir dalam acara yang digelar di rumahnya itu.

Menurut Bambang, syukuran merupakan bentuk terima kasih kepada seluruh pendukung yang telah memilihnya. Sejumlah ritual tolak bala pun digelar sebagai syukur agar dirinya terlepas dari godaan dan ancaman hidup. Usai ritual, Bambang bersujud di tanah dan memakan makanan yang sudah didoakan.

Meskipun gagal menjadi anggota DPR, calon dari Partai Amanat Nasional ini akan memperjuangkan aspirasi warga yang dititpkan padanya. Dirinya miris melihat nasib para caleg yang stres akibat kalah dalam perebutan kursi Dewan. Menurutnya, kekalahan tidak seharusnya menjadi beban karena pilihan ada pada tangan rakyat, bukan tangan caleg.(OMI/Wiwik Susilo)



Jumat, 17 April 2009

Puskapol UI : Caleg Stres, Bukti Parpol Asal Rekrut


DEPOK - Pengamat politik dari Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia Sri Budi Eko Wardani menilai, banyaknya pemberitaan media terkait caleg stres bahkan hingga bunuh diri, adalah buntut dari kesalahan partai politik dalam merekrut para caleg.
Dani mengatakan, partai politik tidak mempunyai kesiapan yang matang dalam hal perekrutan caleg untuk memperjuangkan daerah pilihan (dapil) mereka.
"Ini bukti dari parpol yang asal rekrut caleg, tidak peduli dengan latar belakang dan kesiapan dari caleg itu sendiri, harusnya siap dengan dapil mana yang dijagokan," ujar Sri Budi di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Depok, Kamis (16/4/2009).
Hal ini, kata Dani, dapat menjadi pembelajaran bagi rakyat, di mana ke depan, masyarakat dapat berpikir dua kali untuk mendirikan suatu partai politik dan menjadi caleg. "Hal ini dapat menjadi shock theraphy bagi rakyat, untuk berpikir sebelum terjun menjadi caleg, pikirkan konsekuensinya." katanya.
Sementara itu, fenomena keberhasilan caleg artis, menurut Sri Budi, dapat memberikan warna yang beragam di Senayan. Dia menilai, masih banyak pekerjaan mereka terutama dalam hal merevisi Undang-Undang politik seperti Undang-Undang Pemilu yang banyak tambal sulam oleh Mahkamah Konstitusi.
"Meski demikian, caleg artis ataupun caleg wajah baru, tetap harus mendapatkan training politik, ataupun orientasi soal pemerintahan, bagi para caleg yang masih fresh tersebut," jelasnya.
Namun fenomena keberhasilan caleg artis tersebut masih belum dapat dipastikan karena angka tabulasi yang belum seluruhnya masuk dan cenderung lambat. "Selain itu, caleg-caleg baru tersebut masih sangat memerlukan adaptasi," tegasnya. (ram)



Metro Hari Ini / Nusantara / Jum'at, 17 April 2009 18:35 WIB


Ulah Caleg, Puluhan Perusahaan Terancam Bangkrut
Metrotvnews.com, Bandung: Belum terpilih sebagai wakil rakyat, sejumlah calon anggota legislatif sudah ingkar janji. Akibat ulah caleg tersebut, para pengusaha sablon dan percetakan di Bandung, Jawa Barat, dan Semarang, Jawa Tengah, terancam gulung tikar. Ini karena pesanan atribut partai politik senilai belasan miliar belum dibayar para caleg. Para pengusaha mengancam melaporkan para caleg ke polisi.

Masa kampanye seharusnya menjadi panen rejeki bagi usaha percetakan, kaos dan sablon. Tapi, tidak bagi perajin kaos di sentra kaos Surapati, Bandung. Mereka justru harus mencari pinjaman agar usaha mereka tetap berjalan. Kegundahan para perajin ini akibat ulah sepuluh caleg dari berbagai parpol yang tidak melunasi utang mereka untuk bermacam atribut parpol yang dipesan.

Lisa, salah seorang perajin kaos, mengaku merugi hampir Rp 1 miliar. Uang tersebut seharusnya digunakan untuk membayar bahan baku kaos dan kain. Menurut Lisa, pesanan biasanya langsung diminta caleg atau suruhannya. Namun, ketika kampanye berakhir, mereka sulit dihubungi.

Nasib serupa dialami puluhan pengusaha digital printing dan sablon di Semarang. Salah satunya usaha digital printing di Jalan Veteran. Sejumlah caleg telah memesan stiker, brosur dan ribuan kalender seharga Rp 28 juta. Namun, hingga kini uang tersebut belum dibayarkan. Padahal, ketika memesan, para caleg mendesak pesanannya segera diselesaikan.
Kerugian juga dialami usaha sablon di Jalan Wolter Mongonsidi, Semarang. Seorang caleg DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN), Taufik Kurniawan, mengemplang utang sebesar Rp 50 juta. Uang sebesar itu untuk memesan 200 spanduk, 600 bendera dan 2.000 umbul-umbul. Awalnya tagihan berjalan lancar. Tapi ketika pesanan bertambah, pembayaran mulai tersendat.

Para pengusaha dan perajin atribut parpol mengancam akan mengadukan kasus penipuan itu ke polisi. Janji manis caleg dalam spanduk yang dipesan, terbukti hanya bualan.(DSY)



Jumat, 17 April 2009

Caleg Kok Ngemplang

Wawan Gunawan lesu jika diingatkan soal tagihan yang belum dibayar itu. “Terus terang saya stres,” kata pengusaha pembuatan kaus di Jalan Surapati, Bandung, itu kemarin. Bagaimana tidak. Piutangnya kepada 10 pengurus partai politik mencapai Rp 1 miliar. Satu parpol saja ada yang berutang Rp 570 juta.

Masalah utang-piutang itu berawal dari pemesanan kaus untuk kampanye. Wawan diminta membuat 1.000 hingga 200 ribu kaus dari belasan partai politik. Uang muka ia tetapkan 50 persen. Namun, sisa pembayaran tak kunjung datang meski kaus sudah dibuat. Seretnya pelunasan membuat Wawan mengancam akan membawa kasusnya ke polisi jika sampai tenggat tetap belum dibayar.

Wawan hanya satu dari tiga pengusaha sentra kaus dan spanduk di Jalan Surapati, Kota Bandung, yang bernasib apes selama putaran pemilihan legislatif tahun ini. Menurut Ketua Koperasi Perajin Sentra Kaus dan Spanduk Jalan Suci, Bandung, Marnawie Munamah, total kerugian ketiga pengusaha anggotanya itu mencapai Rp 5 miliar.

Tagihan yang macet dialami pula sejumlah koran lokal yang terbit di Banten. Mereka kesulitan menagih uang pembayaran iklan pemilu yang dipasang calon anggota legislatif. Jumlah tunggakan mencapai ratusan juta rupiah. Menurut anggota staf pemasaran Radar Banten, Eka Setialaksmana, di korannya ada puluhan calon legislator yang belum melunasi tagihan iklan. “Besarnya Rp 5 juta sampai Rp 75 juta per calon,” katanya. Meski begitu, dia menolak menyebutkan siapa calon legislator yang belum membayar karena khawatir mereka malu dan malahan tidak membayar.

Eka menyebutkan, para calon yang berutang itu umumnya berasal dari partai politik besar. Sudah berulang kali ditagih, mereka hanya berjanji akan membayar.

Hal senada dikeluhkan Fikri Hilman dari bagian iklan harian Banten Raya Post. “Puluhan juta yang belum dibayar,” katanya. Dia khawatir tagihan itu tidak dibayar, karena tidak semua calon anggota legislatif itu terpilih dalam pemilu 9 April lalu.

Di Semarang, lain lagi kasusnya. Banyak calon legislator yang terlibat utang kepada perusahaan penyewaan mobil. “Saya sendiri tidak tahu, kenapa seusai pemilu duit mereka sulit keluar,” kata Agus Mansyur, pemilik Safira Rent Car, Semarang.

Tunggakan para calon legislator itu, menurut Agus, nilainya dari Rp 5 juta sampai Rp 16 juta. Biasanya mereka menyewa mobil secara bulanan selama masa kampanye. Duh, belum jadi anggota legislatif saja sudah menyusahkan rakyat.ANWAR SISWADI | MABSUTI IBNU | ROFFIUDIN

Jika Anda rajin mengikuti pemberitaan media massa, khususnya TV, dalam dua pekan ini, ada satu fenomena baru yang kini marak dilakukan pada hampir setiap daerah. Sudah disediakan fasilitas yang representatif bagi calon anggota legislatif (Caleg) yang tertekan (stres) atau mengalami gangguan jiwa karena tak berhasil menggapai impian. Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dari berbagai kota di Indonesia berbenah dengan menyiapkan ruangan khusus bagi yang stres.
Antisipasi pemerintah ini, tentu saja, menarik dicermati. Untuk berbagai tingkatan lembaga legislatif, biaya politik (cost of politics) yang dibutuhkan semakin tinggi. Seorang Caleg DPR RI dari NTB, kabarnya dalam sebuah kesempatan sosialisasi mengaku menyediakan dana Rp6 miliar untuk persiapan menuju Senayan. Jika tanpa pertahanan mental yang memadai, bisa dibayangkan jika pada akhir perjuangannya ternyata gagal mewujudkan impian. Keseimbangan jiwa bakal goyah. Mudah-mudahan tak demikian.
Sudah muncul beberapa contoh yang menggambarkan bagaimana kegagalan politik--dan juga cinta--menyebabkan seseorang kehilangan keseimbangan jiwa. Tingkat harapan (ekspektasi) yang tinggi harus terus dibarengi dengan kesadaran bahwa sesungguhnya kursi (objek) yang diburu pada akhirnya Tuhan yang menentukannya. Manusia hanya berikhtiar, berusaha keras, dan tawakal.
Sebelum memasuki gerbang Pemilu, setiap Caleg sebaiknya melakoni dua pendekatan sekaligus, horisontal dan vertikal. Artinya, intensitas pendekatan terhadap masyarakat (horisontal), diseimbangkan dengan penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa (vertikal). Dalam bahasa yang lebih filosofis, jangan hanya bernafsu memburu ‘kursi legislatif’, tetapi lupa menghayati lantunan ‘ayat-ayat Kursi’. Tanpa kesadaran dalam posisi keseimbangan pendekatan seperti ini, tampaknya petugas RSJ bakal kerepotan dengan kedatangan tamu dalam jumlah yang tak biasanya. Masal...
Kemampuan dalam strategi politik, harus dilanjutkan dengan memberi ruang yang memadai bagi tumbuh dan suburnya kesadaran ruhaniah. Nah, Anda yang sedang berikhtiar menjadi wakil rakyat, persiapkan mental sejak sekarang! (*)


RSJ Menur Siapkan Kamar VIP bagi Caleg yang Gila

Ilustrasi

Selasa, 24 Maret 2009 | 08:04 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Persaingan yang ketat untuk merebut kursi anggota DPR/DPRD berpotensi besar menimbulkan gangguan jiwa bagi para caleg yang gagal dalam pemilu 9 April nanti.

Dalam kaitan ini, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur, Surabaya, siap menampung pasien dari caleg yang tidak terpilih seandainya nanti kegagalan itu membuat mereka mengalami gangguan jiwa. Termasuk gangguan jiwa jenis psikotik yang umum disebut orang awam sebagai gila atau "hilang ingatan".

Di RSJ milik Pemprov Jatim itu terdapat paviliun yang memiliki 30 tempat tidur mulai dari kelas utama hingga VIP untuk caleg gagal yang masih mampu membayar agak mahal bagi perawatan gangguan jiwanya. Sedangkan untuk caleg gagal yang bangkrut, RSJ Menur memiliki kamar rawat biasa yang tarifnya sekitar Rp 25.000 per hari.

Menurut Direktur RSJ Menur dr Hendro Riyanto Sp KJ MM, potensi gangguan kejiwaan dari para caleg saat ini lebih besar sebab mereka tidak hanya bersaing dengan para caleg dari partai lain, tetapi juga caleg dari sesama partai.

Dari catatan Surya, sejak keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) bahwa caleg yang terpilih adalah yang terbanyak mendulang suara, nomor urut caleg memang menjadi tak banyak berguna. Sebab, caleg dengan nomor urut bawah tapi bisa meraih lebih banyak suara, mereka bisa terpilih ketimbang caleg di urutan teratas tapi perolehan suaranya lebih sedikit. Karena sistem suara terbanyak yang terpilih ini, secara individual caleg dituntut lebih banyak proaktif berkampanye ketimbang mengandalkan kampanye partai.

“Kemungkinan besar gangguan jiwa akan dialami oleh para caleg baru yang temperamental dan berambisi sekali menjadi anggota Dewan. Sedangkan para caleg yang merupakan politisi lama dan berpengalaman lebih terlatih menghadapi keadaan. Intinya, caleg sekarang butuh kesiapan modal dan mental,” kata Hendro Riyanto.

Berdasarkan data yang ada, secara nasional kini terdapat hampir 1,7 juta caleg yang akan memperebutkan puluhan ribu kursi anggota dewan (termasuk DPD/Dewan Perwakilan Daerah). Padahal, total jumlah kursi anggota dewan dan DPD yang tersedia hanyalah sekitar 18.000-an se-Indonesia.

Di Jatim saja, untuk merebut jatah 87 kursi DPR RI 2009-2014, sebanyak 1.468 caleg bertarung dalam pemilu 9 April mendatang. Sementara, untuk total 100 kursi di DPRD Jatim, jumlah caleg yang memperebutkan mencapai 1.665 orang; dan untuk 1.710 kursi di DPRD Kabupaten/Kota, jumlah caleg yang memperebutkan mencapai belasan ribu.

Menurut Hendro, semakin banyak dana dan tenaga yang dikeluarkan caleg, secara umum semakin tinggi tingkat stres jika mereka tidak terpilih. Sebaliknya, semakin sedikit dana dan pikiran yang dicurahkan seorang caleg untuk merebut kursi Dewan, tingkat stresnya cenderung rendah.

Sebuah penelitian dari ahli jiwa RS Hasan Sadikin Bandung yang dirilis akhir pekan lalu menyebutkan, sangat mungkin caleg yang tidak lolos bisa gila karena frustrasi. Setelah dilakukan tes terhadap para caleg di sejumlah kota/kabupaten di Indonesia, ditemukan fakta bahwa daya tahan mental para caleg umumnya tidak kokoh sehingga susah menerima kenyataan buruk apabila mereka kalah dalam pemilu.

Akibat kekalahan dalam pemilu, menurut penelitian itu, para caleg bisa mengalami gangguan jiwa yang diawali dengan rasa cemas, susah tidur, putus asa, merasa tak berguna, dan kemungkinan terburuk bunuh diri.

Oleh karena itu, terkait pemilu, saat ini Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan menyiagakan seluruh dokter yang bertugas di 32 rumah sakit jiwa di Tanah Air. Namun, rumah sakit jiwa hanya dapat menampung 8.500 tempat tidur.

Hendro mengungkapkan, fasilitas rawat inap di ruang paviliun R

SJ Menur merupakan yang terbaik yang bisa didapat pasien. Total 30 bed yang tersedia di paviliun, terbagi dalam ruang-ruang berbeda sesuai kelasnya seperti VIP 1, VIP 2, Kelas Utama 1 dan Kelas Utama 2.

Di kelas VIP, pasien akan mendapatkan ruang yang cukup luas, dengan kamar tamu, kamar tidur, serta kamar mandi dalam di satu ruangan. Selain itu, juga dilengkapi AC dan televisi. Perbedaan antara ruang VIP 1 dan VIP 2 adalah jumlah bed yang disediakan. Di ruang VIP 1 tersedia satu tempat tidur untuk satu pasien, sementara ruang VIP 2 bisa ditempati dua orang pasien. Sedangkan untuk kelas utama, fasilitas ruang hampir sama dengan VIP 2 tanpa AC, hanya kipas angin.

Biaya rawat inap per hari di Kelas VIP 1 RSJ Menur Rp 350.000, VIP 2 Rp 250.000, Kelas Utama 1 Rp 150.000, dan Kelas Utama 2 Rp 100.000.rey/k6


0 komentar:

Posting Komentar